Perjalanan ke Jogja kali ini terasa seperti masuk ke dalam buku cerita yang baunya masih baru. Aku duduk di kursi belakang mobil EV keluarga kami, dan sejak mesin dinyalakan, semuanya sudah terasa berbeda. Tidak ada suara vrooom yang biasanya muncul ketika mobil bergerak. Yang ada hanya hembusan angin lembut, seperti bisikan halus yang menyuruhku bersiap untuk petualangan panjang. ⚡🚗✨
Ayah bilang mobil EV itu irit dan ramah lingkungan. Buatku, rasanya seperti naik kereta listrik mini yang bisa belok ke mana saja. Layar di depan terlihat seperti papan kendali pesawat luar angkasa. Kadang aku membayangkan kalau kami sedang melaju menembus lorong kosmik menuju Jogja, bukan sekadar lewat jalan tol.
Awal Perjalanan: Senyap yang Aneh Tapi Seru
Aku sempat bingung waktu mobil mulai jalan tanpa suara. Kakak bahkan nyeletuk, “Lho, ini mobilnya beneran jalan apa cuma ngambang?” Ibu langsung tertawa, tapi aku ikut merasakan sensasi anehnya. Tanpa suara mesin, kami bisa mendengar suara kresek bungkus keripik, dan itu bikin aku sadar betul kalau perjalanan sudah dimulai.
Kendala Kecil yang Jadi Cerita
Perjalanan panjang tentu tidak mulus seperti iklan. Tapi justru hal-hal kecil itu yang membuat semuanya jadi punya rasa.
1. Cari Charging Station
Ayah beberapa kali membuka aplikasi karena charger berikutnya letaknya agak jauh. Rasanya seperti main treasure hunt, cari titik pengisian tersembunyi. Waktu kami berhenti untuk ngecas, aku turun dan melihat mobil kami terhubung dengan kabel besar yang bentuknya seperti ular robot yang tidur. Aku geli sendiri melihatnya. ⚡🐍
2. AC yang Terlalu Dingin
Karena mobil listrik irit energi, AC-nya terasa “niat banget”. Kakiku sampai dingin kaya es lilin. Aku akhirnya minta selimut tipis dan merasa seperti penumpang pesawat murah yang sok eksklusif.
3. Suara Khas EV yang Bikin Salah Dengar
Beberapa kali aku salah sangka. Kupikir ada suara UFO, ternyata cuma suara whirrrr motor listrik waktu ayah injak pedal. Kakak bilang mobil kami mirip kendaraan superhero. Aku setuju.
4. Charger Bunyi ‘Beep’ Tanpa Ampun
Saat ngecas di rest area, chargernya bunyi beep beep beep terus-menerus. Aku sampai menutup telinga, tapi lama-lama bunyinya seperti lagu robot yang lagi latihan vokal. Jadinya lucu.
Masuk Jogja: Kota yang Menyambut dengan Hangat
Begitu papan “Selamat Datang di Yogyakarta” muncul, aku merasa seperti baru menang lomba lari. Lampu-lampu kota menyala lembut, mirip lentera yang digantung angin. Kami melewati Malioboro dan aku menempelkan wajah ke kaca. Ada pedagang, ada turis, ada becak yang melintas seperti kura-kura bersemangat.